Header Ads Widget

Responsive Advertisement

CILIWUNG: CERMIN PERADABAN KOTA



CILIWUNG: CERMIN PERADABAN KOTA
Oleh: Hendra Gunawan 

Sungai Ciliwung dulu bukan sungai mati seperti yang banyak dilihat orang hari ini. Di aliran Bogor hingga Depok, sungai ini pernah menjadi habitat alami berbagai ikan lokal seperti beunteur, baung, hingga ikan dewa. Kehadiran ikan-ikan itu bukan sekadar soal keberagaman hayati, tetapi penanda bahwa ekosistem sungai pernah hidup dengan sehat.

Masyarakat lama di bantaran Ciliwung mengenal betul ikan beunteur sebagai ikan sungai yang umum ditemukan di aliran air jernih dan berarus stabil. Penelitian IPB pada kawasan hulu DAS Ciliwung juga mencatat ikan beunteur (Puntius binotatus) sebagai salah satu spesies lokal yang cukup dominan pada awal 2000-an. Artinya sederhana: dulu kualitas ekologis Sungai Ciliwung memang jauh lebih baik dibanding sekarang.¹

Tetapi wajah Ciliwung berubah cepat seiring perubahan kota.

Urbanisasi yang tidak terkendali, ledakan permukiman, limbah rumah tangga, sampah domestik, sedimentasi, hingga pencemaran industri perlahan mengubah karakter sungai. Ciliwung tidak lagi bekerja sebagai ekosistem alami, melainkan lebih menyerupai saluran pembuangan raksasa yang dipaksa tetap mengalir di tengah kota yang terus tumbuh.

Perubahan itu paling jujur terlihat bukan dari warna airnya, melainkan dari jenis ikan yang masih mampu bertahan hidup di dalamnya.

Hari ini, di banyak titik aliran Ciliwung wilayah Depok, ikan lokal semakin sulit ditemukan. Yang justru mendominasi adalah ikan sapu-sapu, nila, mujair, lele, dan ikan cere. Ini bukan kebetulan biologis. Ikan-ikan tersebut memang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap kualitas air buruk, kadar oksigen rendah, dan pencemaran organik yang berat.

Dominasi ikan sapu-sapu menjadi tanda yang paling jelas.

Ikan ini mampu hidup pada kondisi sungai yang sulit ditoleransi sebagian besar ikan lokal. Ia tahan terhadap air keruh, kadar amonia tinggi, bahkan paparan logam berat. Karena itu, ketika populasi sapu-sapu semakin mendominasi, sesungguhnya sungai sedang memberi sinyal bahwa kualitas ekologisnya sedang bermasalah.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Yusli Wardiatno, bahkan menyebut dominasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung sebagai indikator sungai yang “sakit” akibat pencemaran.²

Masalahnya tidak berhenti di situ.

Ciliwung juga dipenuhi ikan budidaya yang lepas dari kolam warga seperti ikan mas, bawal, nila, dan mujair. Sebagian terbawa banjir, sebagian lagi lepas dari kolam pemeliharaan. Bahkan kini mulai muncul ikan invasif seperti red devil, ikan hias agresif yang sering dilepas dari akuarium ke sungai.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa ekosistem Sungai Ciliwung sudah mengalami perubahan struktur biologis secara serius. Ketika spesies asli perlahan hilang lalu digantikan spesies tahan pencemaran dan ikan invasif, maka yang rusak bukan hanya kualitas air, tetapi keseimbangan ekosistem sungai secara keseluruhan.

Ironisnya, banyak orang masih menganggap sungai hanya urusan sampah yang terlihat di permukaan. Padahal kerusakan terbesar justru sering tidak terlihat: penurunan oksigen terlarut, peningkatan amonia, pencemaran logam berat, dan rusaknya rantai kehidupan di dalam air.

Sungai yang sehat seharusnya mampu menopang kehidupan alami. Ketika ikan lokal menghilang, itu sebenarnya alarm ekologis yang jauh lebih serius daripada sekadar air keruh atau bau tidak sedap.

Karena itu, pemulihan Sungai Ciliwung tidak cukup hanya dengan kegiatan simbolik bersih-bersih sungai. Persoalannya jauh lebih dalam: pengendalian limbah domestik, tata ruang yang buruk, lemahnya pengawasan pencemaran, dan rendahnya kesadaran ekologis masyarakat perkotaan.

Pada akhirnya, kondisi sungai selalu mencerminkan kualitas peradaban manusia di sekitarnya.

Dan Ciliwung hari ini sedang berbicara sangat jujur kepada kita.

Catatan kaki:

1. Rahmawati, Inna. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Beunteur (Puntius binotatus) di Hulu DAS Ciliwung. Institut Pertanian Bogor (IPB), 2006.

2. IPB University. Dominasi Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung Gejala Sungai “Sakit” Akibat Pencemaran, 2026.